thoughts UFO Family : Kisah Rumah Tangga Muda

Sharing Sambil Gendong Bayi Asik juga

 Aku mau ceritain kegiatan kemaren pas dapet kesempatan sharing di acara diskusi keislaman sambil gendong bayi.
Serius, ini perdana banget sharing materi sambil gendong bayi. Rada menantang tapi asik juga loh! Badan emang udah terlatih buat bepergian. Pernah 3 jam lebih dede bayi nemplok terus haha.
Lanjut, jadi ceritanya kemarin dapat kesempatan ngisi acara untuk mahasiswi LDK kampus UIN dengan tema :
“Life Skill Basic Muslimah, Perlukah?”.

Tema menarik ini aku isi dengan berbagai latihan praktis juga, supaya mudah di praktikkan.

Berupaya untuk menjadi pribadi hebat (yang memiliki berbagai kecakapan) itu bukan hal yang mudah, namun bukan berarti tidak bisa dilakukan. Sebab lifeskill bukan hanya soal tampilan, fisik, berat badan, warna kulit yang seringkali para perempuan risaukan, melainkan beberapa kecakapan yang dapat menjadi “nilai pribadinya”.

Lifeskill bisa diasah dengan cara mengenal diri sendiri dan sadar akan tugas peran.
Mengenal diri bisa melalui perenungan, mengikuti tes minat bakat, atau bisa didapat dari feedback orang-orang terdekat. Sedangkan mengenal tugas dan peran adalah latihan seumur hidup sampai kita being expert on that. Terutama skill basic seperti bagaimana menjadi hamba Allah yang baik, istri yang baik, ibu yang menjadi teladan, dan beberapa skill untuk menunjang profesi lainnya, seperti kecakapan berkomunikasi, berlembah lembut, penyayang anak kecil, penyayang binatang, pemaaf, dkk.

Di awal materi, aku berusaha samain persepsi dulu tentang “tujuan penciptaan Allah nyiptain kita sesuai QS 51:56, yaitu ntuk beribadah. Nah, posisi “life skill” ini sebagai penunjang kita untuk beribadah sama Allah. Jadi inget, apapun profesi dan status sosial kita di dunia, tetep punya tanggung jawab untuk on the track bertujuan ibadah.

Selain itu, aku juga sharing tentang beberapa hal yang bisa menguatkan pribadi agar terus mau berupaya upgrade diri dan memiliki life skill. Berikut poinnya:
A. Memiliki tujuan. Gak boleh menerawang. Harus pasti dan harus di break down dulu. Kalo perlu sampai nemu “strong why-nya dan timeline di capainya.
B. Keinginan bekerja. Disini mulai muncul lifeskill untuk meraih poin A tadi.
C. Rasa wajib. Biasanya setelah ketauan akan jadi habit (QS 2:147). Sesuatu yang di perintahkan oleh hati nurani kita, karena biasanya batin dekat dengan al-haq.
“Kebenaran datang dari Tuhanmu, maka jangan sekali-kali engkau ragu.”

D. Pengaruh Din dan iman.
Ada quotes dari Buya Hamka yang sesuai :”Bekerjalah manusia dengan kepercayaan penuh kepada Allah”.

 

Oke, kembali ke menggendong anak ya. Hehe. Kalo udah nemuin gendongan yang tepat, aktivitas menggendong menjadi tempat ternyaman dan media bonding (membangun kelekatan). Misalnya aku sama Atta, anakku. Jadi bersyukur banget. Dulu sebelum nemu gendongan yang pas, ngegendong jadi tantangan tersendiri.

Oiya jadi inget kemarin. H-1 acara kami masih di Jakarta, bayi pergi-pergi aja nih. Kalo bayi sering pergi, pijit dengan insting ibu juga harus rutin ya. Qodarullah, anakku juga belum sakit alhamdulillah. Padahal aku pernah drop 2 mingg. Subhanalllah imunnya. Apa karena lotus birth yah? Wallahu a’lam.

Intinya, alhamdulillah pokoknya, seneng banget bisa menggendong nyaman dari mulai bayi merespon tiap topik, sampai akhirnya tertidur pulas.

Terakhir, Terima kasih Ayah siaga yang selalu dukung dan sigap. Terima kasih juga Nak, telah menemaniku berada di setiap majelis ilmu.

Mari berpetualang lagi!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *