Posted on Leave a comment

Natural & Conscious Parenting

    Ziyad 7 bulan

Jadi ceritanya mau cari inspirasi tentang parenting, meskipun jadi emak-emak, dengan kemudahan teknologi,ga ada alesan buat gak belajar ya.

Jadi, aku dan suami hari ini belajar tentang “NATURAL AND CONCSCIOUS PARENTING”, mengasuh anak se-alami dan dengan kesadaran penuh dari Dr. Tiwi dan ada beberapatulisan sumbernya dari penulis pribadi, tapi serius, beliau emang super inspiratif.

Oke, berawal dari kesadaran bahwa mendidik dan mengasuh anak bukan hanya tentang fisik (Berat Badan,Gizi Seimbang, dkk), tetapi juga yang harus di penuhi soal emosi dan spiritual, jadi memang tugas bayi 0-2 tahun selain diajarkan tauhidullah, adalah BERINTERAKSI dan BERGERAK.

Nah, kita sebagai ortu adalah gerbang mereka bisa tumbuh se-alami mungkin, jangan sampai karena kekhawatiran kita yang berlebihan, anak jadi tidak ter-eksplor tumbuh kembangnya. Hati-hati juga sama teknologi atau TV yang bisa membuat bayi diam.

Bukan Cuma bayi harus bisa berinteraksi dan cukup bergerak, bahkan Seorang ahli mengatakan, setiap gerakan sekecil apapun pada bayi, sangat baik untuk tumbuh kembangnya, (jadi inget pas Ziyad bayipun, kami memutuskan enggak pakai bedong terlalu ketat,dan hanya sampai 3 bulan, sisanya, senyamannya). Kalo aku, bahkan pemakaian kaos kaki dan topi pun super jarang, karena aku percaya bayi kuat dan mampu beradaptasi dengan lingkungannya, tapi ya rasional aja ya. Kalo di kereta kan dingin, mungkin perlu agar hangat.

Jadi, semoga bisa jadi ortu yang bijak buat selalu kasih fasilitas dan kesempatan juga kepercayaan pada anak.

Gimana caranya nerapin natural parenting? :

1. Karena sadar anak tidak bisa besar sendiri, butuh ortu,sekeliling, dan lingkungan yang mendukung penuh perkembangannya, pastikan ia berada di lingkungan terbaik dan dalam pengawasan penuh ortu. Jadi kita adalah orang yang paling tahu tentang anak.

Oiya, beliau juga anti dengan sekolah dini, karena bila tidak darurat, saran beliau agar anak kuat dari dalam rumah.

2. Ada hal yang lebih penting daripada anak bisa MEMBACA sejak dini, yup, yaitu OUTDOOR ACTIVITY. Karena matahari dan alam memiliki banyak kebaikan untuk anak-anak.

3. Berusaha untuk seimbang berbagi peran antar Ayah dan Bunda. Bu ibu,yuk biasakan libatkan suami dalam hal sekecil apapun, karena meski sosok Bunda penting bagi anak,tapi Ayah tak kalah penting untuk menumbuhkan kepercayaan diri pada sang istri dan anak.

4. Penting juga untuk sadar bahwa anak bukan hanya sehat JASMANI, akan tetapi ROHANI. Pentingnya membangun dan menjaga kedekatan kepada Sang Pencipta, juga dengan keluarga sebagai sumber cinta dan tempat berkeluh kesah anak no. 1.

Aku ini dari kecil, anaknya anti obat, anti antibiotik. Bukan karena kimia, tapi karena emang gak bisa nelen, hahaha!, pada awalnya, tapi makin kesini lebih karena sadar juga dan percaya bahwa selagi bisa di ikhtiarkan yang alami, alami dulu. Tapi balik lagi ya, yang rasional, bila darurat, baru medis. Nah, beliau juga sama, bahkan sebisa mungkin bayi 0-2 tahun tidak terpapar obat sama sekali, apalagi yang bayinya ASI eksklusif. Dokter terbaik bagi sang anak, adalah kedua orang tuanya, jadi percayalah sama instingmu.

Bahkan tak jarang, kata dokter, yang sakit bayi dan anaknya, tetapi realitanya dokter anak ini mengobati “kecemasan orang tua yang berlebihan”, tapi anak yang di kasih tindakan, 🙁 so sad.

Padahal tubuh memiliki bakteri baik juga, yang dengan anti biotik, malah hancur.

Jadi, beliau menyarankan, “jangan sedikit-sedikit datang ke Dokter/rumah sakit”, berdamailah dengan demam, kalo ngerti ilmunya, demam bisa di atasi di rumah. Bisa toleransi 4-10 hari, bahkan Dokter Reza bilang, 40 hari gak sembuh, baru ke Dokter. (In case, gak membaik ya).

Jadi aku suka banget sama materi ini, karena beliau semacam ngasih kepercayaan ke ortu, bahwa kita semua udah di bekelin sama Allah buat mampu ngurus anak, tinggal semangat jemput ilmu, asah kepekaan, dan percaya juga sama anak, sehingga Sang anak pun, bisa beradaptasi dengan dunia yang gak steril sekalipun.

Oiya, ada statement beliau juga yang paling ngena bilang :

“mainan itu Cuma alat, obyek terbaik adalah ortunya. Jadi bahkan tanpa mainan sekalipun, kehadiran dan cinta dari ortu, adalah permainan terbaik untuk anak.”

 

Trus mulai dari mana untuk  bisa mulai hidup natural?

  1. Mulailah bertahap
  2. Jangan jadikan rumah sebagai “halte”, tapi bangun rumah sebagai sumber cinta dan kebahagiaan, sumber kesehatan juga baik jiwa maupun raga. (iya dong, kalo di RS, banyak loh bakteri gak baik ngumpul, tapi lingkungan yang sehat ya di rumah).
  3. Dekatlah dengan sumber alam dan mataari, karena matahari baik bukan hanya untuk hati, tapi seluruh tubuh, baik yah alam :”), subhanallah.
  4. Obat-obatan itu sama sekali tidak natural, makanan instant tidak natural, jangan kenali mereka dengan mudah.
  5. Untuk medis, boleh asal rasional.

 

 

Jadi inget, pas persalinan anak pertamaku Ziyad Fatahillah yang Alhamdulillah di kasih cara #GentleBirth dengan melahirkan yang bahagia tanpa trauma, juga bisa #LotusBirth juga selama 5 hari baru putus tali pusarnya, dan mau berusaha hidup se-alami-mungkin,meski masih berproses, karena ujiannnya juga luar biasa ya.

Tapi seru sih, punya suami dan tim yang mendukung, kami juga masih terus berproses, suami suka olahraga, jadi kebawa, dan aku tipe Ibu yang suka outdoor activity, (secara gedenya di lapangan dan merantau, haha), mudah-mudahan kita bisa jadi keluarga yang menjaga kesehatan bukan hanya fisik, tapi juga spiritual dan emosinya, bisa menjadi pendengar yang baik untuk mereka, bisa menjadi kawan yang setia, menjadi jalan kebaikan untuk anak-anak kita, dan tidak terlena dengan teknologi, bijak aja.

kesimpulannya menurutku :

aku percaya bahwa Allah udah ciptain semua fasilitas yang ada untuk kebaikan hamba-Nya, tugas kita terus mencari tahu dan gali kebaikan alam yang mungkin udah lama di tinggalkan dengan dalil atas nama globalisasi dan era teknologi. sederhana misalnya orang-orang yang mulai beralih pada “produk makanan” bbukan makanan asli yang memang alami, tanpa pengawet, padahal udah jelas sumber penyakit yah, hehe, dan juga mari belajar mengasuh bayi dan anak dengan kesadaran penuh, bahwa akan ada hari akhir, hari dimana semua yang kita lakukan pada amanah-Nya di mintai pertanggungjawaban, :(, Astaghfirullah, semoga kita tergolong orang yang selamat amin.

Bismillah!

 

 

 

Bandung, 5 Januari 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *