Pengembangan Diri Travel

Gayo Lues, Aceh

Silaturahim berbuah manis. Sepenggal cerita bersama keluarga kecilku mas uta, bayikku Ziyad, kakak dan sahabatku Meyda Sefira, menuju perjalanan panjang 18 panjang kenuju negeri di balik 1000 bukit dan melewati tikungan panjang berkelok-kelok,di daerah Aceh bernama Gayo Lues, lewat wasilah sahabatku Hani Hanifah, salah satu sahabat di Komunitas Hujan Safir, yang sangat manis dan indah.

Awalnya Hani di tempatkan di salah satu pesantren tahfizh di sini, Gayo Lues, yang berujung pada Silaturahim untuk bedah buku kami dan tausiyah motivasi bareng Kak Meyda. Bahagia banget!.

18 jam perjalanan sama Suami (yang ternyata baru pertama kali ke Pulau Sumatera), Turki aja pernah, negeri sendiri belum nih,  hihi. Gak papa ya mas, mungkin emang takdirnya eksplornya bareng Fifi sama Ziyad nanti, kebayar semua dengan keindahan Aceh tengah, lanjut kab. Gayo Lues. Mulut gak berhenti-hentinya bertasbih, pas awal masuk daerah ini. Gak nyangka di balik banyak bukit dan tikungan panjang berjarak perjalanan 5 jam darat, ada kehidupan yang super asri, keindahan alam yang luar biasa, kekayaan alam yang maha indah, pokoknya kudu mampir ke sini.

Ada Ikan yang beromega tinggi dan cuma di Aceh tengah satu-satunya di Indonesia, ada kopi ueeennnaaak bernama kopi gayo yang hits, ratisan bahkan ribuan hewan ternah berkeliaran sepanjang perjalanan kami, ah! Bahagia rasanya. Membayangkan Indonesia Negeri Agraris yang makmur di sini.

Selama di sini pun, bahagia dengan ke-ramah-tamah-an penduduknya ala Indonesia banget. Gotong royong ngasih yang terbaik untuk kami yang bukan siapa-siapa ini, termasuk bayikku. Baru pertama datang, sudah muncul rasa kasih sayang, Allah Maha Baik.

Selain para remaja, peserta bedah buku kami yang berjudul #HarmonSemesta siang tadi juga di isi oleh para ibu-ibu loh! Padahal apa lah aku ini ilmunya di banding ibu-ibu seseouh yang jam terbangnya udah luar biasa, makanya setiap kali ada kesempatan ngobrol dengan penduduk asli sini, tak kulewatkan.

Gak adil rasanya bila kemajuan suatu penduduk di lihat hanya dari sisi “kemelekan teknologi” saja, karena jujur, Aku sangat bahagia kenikmati pemandangan orang-orang yang memiliki “sedikit sinyal” bagkan tanpa sinyal, hidup rukun adem ayem bertetangga dan saling mengobrol satu sama lain.

Mereka memiliki ladang, udara yang sangat segar (melebihi Bandung), jadi daerah sini dingin, minim polusi, peternakan jangan di tanya, bahkan lalu lintas yang sukit adalah menerbitkan Binatang menggemaskan ini. MasyaAllah.

Oiya, di sini gak ada lanpu merah loh. Jalanannya pun relatif ramai tapi gak padat. Jarak dari desa ke kota pun tak begitu jauh.

Ya Allah, izinkan kami sekeluarga bisa kembali ke sini lagi untuk menikmati keindahan karunia-Mu. Ya Allah, jadikan penduduk Gayo Lues Penduduk yang makmur & baik hati, jiwa, pikiran, dan juga amanah.

Amin.

lidah ini kelu melihat betapa luar biasanya menciptakan indonesia yang begitu indah luar biasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *