Posted on Leave a comment

Memberdayakan diri mulai darimana?

 

Minggu lalu, salah satu rangkaian kegiatan acara yang berkesan adalah melakukan perjalanan bareng mas Uta, sahabat dan (meski end up kita pisah gerbong, tapi seru.haha) dan disambut dengan kehangatan orang-orang di Solo.

Penyaji Materi WOMEN EMPOWERMENT

Di suatu malam, sembari kami membahas salah satu project Komunitas Hujan Safir Solo Booth camp training, yakni kegiatan para muslimah secara intens dari pagi sampai sore “ala Pesantren Kilat Hujan Safir” Bandung, dengan kurikulum yang kami sesuaikan, kami pun diminta untuk ngisi sharing session tentang Women Empowerment. (H-1..kyaaaaa..bakal sharing opooo ikiii).

Tapi akhirnya, singkat cerita malam itu juga rela begadang buat materi. (Aku ini orangnya grogian dan takut mati kutu kalo depan orang, jadi mempersiapkan diri dan materi tuh hal yang wajib demi mempersembahkan yang terbaik #Eaaaa).

Oiya, btw acara ini didukung oleh sahabatku Tria dari FIM dan Happiness Project Family. Random dulu ya. Dia itu orang yang pertama kali ketemu langsung berkesan banget, karena energi positif yang terpancar bersama suaminya. Sosok muda, aktif, inspiratif, berdaya, and of course Social Acitivist too, jadi berasa baru ketemu beberapa kali, langsung klik and love gitu #eaaaaa. Satu kesamaan kami adalah memiliki sikap SPONTANITAS. Bahkan kolaborasi yang terjadi di Solo adalah bentuk Spontanitas kami yang berusaha untuk berdaya bersama, Bismillah.

Oke kembali ke materi women empowerment. Di sana aku spontan juga sharing tentang MAU BERDAYA, MULAI DARI MANA?

as a women, penting banget buat sadar kewajiban dan status serta tanggung jawab di belakangnya yang ternyata luar biasa banyak. Akan tetapi, aku dan suami percaya bahwa BERUMAH TANGGA bukan berarti memberhentikan kami dari memberdayakan diri untuk sama-sama berkarya. Kami bersama-sama melakukan komunikasi bahkan jauh sebelum kami menikah. Kesepakatan ini yang akan berujung pada life goals dan life plans yang InsyaAllah sama-sama ridho dan saling dukung, karena niyatnya lillah.

RIDHO-NYA, RIDHO ORTU, RIDHO SUAMI

 

Jadi, yang pertama dilakukan sebelum berusaha mendayagunakan diri dengan berdaya dan berkarya adalah perlunya komunikasi produktif dan berujung pada keridoan orang-orang sekitar, terutama suami (bila sudah memiliki pasangan), karena dukungan, cinta, dan doa akan menguatkan kita untuk melakukan banyak hal.

DON’T LIMIT YOURSELF.

Aku sama mas Uta itu dirumah tanpa pembantu, yang mana tiap kali kami belajar, ngisi acara, ketemu client, rapat ya seringnya tiga-tigaan sama Ziyad.
Aku itu tipe ibu rumah tangga muda yang punya kerjaan domestik dan non domestiknya super banyak juga seneng dan berusaha tetep memberdayakan diri, apalagi kawula muda, #Eaaaa.

Jangan-jangan ketidak berdayaan diri selama ini hanyalah benteng dari kumpulan rasa malas, dan mindset kita yang membentengi diri sendiri, limit ourself. Careful :”)

KEMATIAN SANGAT DEKAT

Alarm terpenting adalah kesadaran akan kematian sangat dekat. Kesempatan gak datang 2 kali, apalah arti hidup kita tanpa amal jama’i yang bisa disiapkan dari hari ini. Mungkin bisa kita mulai dari kesadaran pentingnya mengaktualisasi diri dan berdaya, semangatnya ibadah dan lillah 😉

 

MULAI DARIMANA?

Memulai sendiri, ide sederhana yang mungkin aku dan kita semua sadar, tapi seringkali lupa atau abai. Sebelum melakukan sesuatu, cek dulu, bermanfaat enggak, dan apa kita mampu melakukannya. Begitu juga dengan memberdayakan diri, kurasa mulai dari kesadaran bahwa kita adalah hamba Allah (luruskan niat, temukan potensi dan kekuatanmu), mau berproses dan siap berprogres.

Semua orang yang senang bertumbuh dan bergerak juga menggerakkan orang lain adalah orang yang senantiasa siap menerima ilmu dan belajar. Berusaha berbagi dengan sesamanya, sehingga tidak pernah merasa puas dengan pencapaian dan tetap rendah hati terhadap sesama.

Be forever learner, baik itu ilmu agama maupun softskill umum yang akan membantu banyak hal dalam melakukan aktivitas untuk memberdayakan diri. Tentukan coach, dan pilih role model yang tepat. Temui dia. Dengan bertemu guru, akan senantiasa hadir feedback baik yang bisa membantu kita lebih efektif dan bisa meningkatkan skala pencapaian kita.

Terakhir, selamat berkarya. Selamat #MenjejakAsa. Ini self reminder juga by the way. Semoga Allah tetep nomor satu. Aamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *