Pengembangan Diri thoughts UFO Family : Kisah Rumah Tangga Muda

Day 5 : Keresahan Hati

Inspirasi Ramadhan Series.

#Giveaway Buku Harmoni Semesta Alert.

“Nak, tahukah apa hal yang paling melelahkan dalam hidup ini?”

“Salah satu sebabnya adalah karena semua soal dan perkara, baik itu masalah dan ujian dalam hidup, kita berusaha untuk menyelesaikannya sendiri. Kita seringkali lupa bahwa keputusan yang sebenarnya adalah di tangan Allah SWT.”

Kadang bahkan sering, Hati ini lalai untuk terpaut pada-Nya dan hanya fokus kepada kekuatan diri. 🙁

Inspirasi tulisan pagi ini, datang dari salah satu Buku Buya Hamka, tentang Pentingnya melakukan Ibadah dengan keinsafan dan kesadaran, agar hilang penyakit jiwa. Banyak orang yang super salah sangka, bahwa ibadah sebagaimana solat, puasa, dll hanyalah semata-mata upacara yang mati, duduk tegak, ruku’, sujud, menahan lapar dan dahaga saja, tiada arti.  Padahal beliau bilang, pokok utama dalam ibadah adalah kesadaran jiwa dan akal.  Apabila kesadaran beragama dan hikmahnya yang tertinggi telah hilang, maka tinggallah bangkai agama dan bingkainya aja. Na’udzubillah 🙁

#SelfReminder ini.

Beberapa tahun tahun, bahkan aku alami sendiri dari kecil, yang Qodarullah mendapatkan kesempatan bisa tinggal dan bertemu dengan masyarakat islam yang heterogen. Aku belajar empati dan peka dari banyaknya perbedaan ini dan belajar hati-hati dalam bersikap.

Tapi sadar gak, kalo kita umat muslim bener-bener disibukkan dengan perbedaan di ranah “furu’iyyah”. Keselnya sih bahkan perpecahan ini semacam “sengaja dipelihara” agar kita lalai akan tujuan awal pentingnya menjaga ukhuwah islamiyyah. Malah parahnya kita jadi belajar untu mudah membenci sesama, gampang suuzhon, fanatisme berlebihan, padahal jelas manusia terbaik adalah Rosulullah dan para sahabatnya. Sering juga saling menganggap diri berbeda dan ekslusif, termakan hoax dengan mudah, suara kita menjadi murah, tidak ada yang menyuarakan tentang bagaimana akal  menjunjung tinggi mutu keislaman kita. Padahal saat kita mau berpikir. menggeser sedikit dari fanatisme berlebih pada tokoh, dan mulai mencari tahu sendiri, bisa jadi akan jadi kekuatan hijrah yang lebih mendalam, dan yang utama adalah mengembalikan goals di awal, bisa ikhtiar beribadah kepada Allah dengan penuh kesadaran. (khusyu’).

Masalahnya, sadar gak sadar, Masyarakat kita sengaja dibikin sakit jiwanya, mulai dari entertainment berlebihan, TV yang isinya merusak jiwa, Pesta Demokrasi yang dibungkam suara rakyatnya, bahkan Perwakilan rakyat yang sering viral di video, jelas jauh kapasitasnya dari Negarawan, apalagi menjadi contoh untuk rakyat biasa seperti kami. Yakin mereka mau memperjuangkan nilai-nilai kami?

Tapi, buzzer pun jago. Setiap kali ada orang yang menyuarakan kebenaran dan kebaikan, dibuat sedemikian rupa, dengan “robot2” tak beradab. (banyak sekali dirasakan beberapa Guru dan sahabatku, sebut saja Bunda Tatty Elmir, @Sherlyannavita, dan banyak lainya), dengan kalimat cacian, sehingga orang-orang yang “tak berpikir” ini, menjadi kaum yang mau saja menerima informasi hoax yang sengaja dibuat ,pengalihan isu yang bisa dialhikan sedemikan rupa, tapi tidak akan terkeco bagi mereka-mereka yang menyalakan mata hatinya. Menyuarakan apa yang ia yakini, dari proses berpikir menggunakan akal sehat dan hati sanubari. Wajar bila kita memperjuangkan kebaikan, banyak orang yang belum siap untuk berubah, tapi yang lebih serem adalah, menghadapi Syeitan berbentuk manusia, yang bahkan momen Ramadhan pun, tak membuat ia jera.

Lalu apa yang bisa kita lakukan?

kokohkan hati dan jiwa kita, mulai mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. “Iqro” segala sesuatu bukan hanya informasi yang kita terima, tapi pilah, kritisi, cari lebih dalam, panjang kali lebar, kembalikan semua ke standar kebenaran, minta doa dan petunjuk dari Allah. Belajar belajar dan terus belajar. Perjuangan ini butuh stamina, bekal yang super cukup untuk menyuarakan apa yang kita yakini. Tajamkan mata hati kita untuk melihat dari sudut pandang yang lebih luas, kacamata helikopter, naikkan lagi jangkauan berpikir kita.  Semoga hati kita terus Allah bimbing dan dijaga. InsyaAllah amiiin.

Selfreminder.

Semalem, sebelum tidur, Mas Uta juga tiba-tiba ngobrol dan flashback lagi tentang tujuan awal pernikahan kita, yakni menjadi bagian dari unit terkecil yang perlu kita jaga kekokohannya, terus tiba-tiba sambil ngobrol santai evaluasi, apa yang perlu masing-masing kami perbaiki. Keluarga adalah unit terkecil peradaban. Dan tahu asal kata dari peradaban adalah adab. Setelah akidah, lanjut ke adab (akhlak), dan buat kami orangtua yang masih belajar ini, tentu sambil mengajarkan anak adab, kita pun wajib rendah hati untuk terus belajar juga 🙂

Buat kami, bisa ngurus anak tiga2an tanpa bala bantuan,adalah suatu kenikmatan sendiri meski pasti super lelah. Tapi kalo inget lagi tentang strong why kita, memperbaharui niyat setiap hari, InsyaAllah mudah-mudahan bisa saling menjaga. Mohon doanya ya :).

Gak mudah buat cari moment bisa ngobrol dari hati ke hati, tapi kalo ada dan ketersediaan dalam mendengar pada masing-masing pasangan, manfaatkanlah untuk saling memberi feedback baik untuk pribadi kita masing-masing. 

ya Allah, jadikanlah kami hambamu yang tunduk patuh pada-Mu juga anak dan keturunan kami, (QS 2: 128)

 

Self Reminder

 

Bandung, 5 Ramadhan 1440 H


Assalamualaikum sahabat semua, di bulan ramadhan ini, akan ada #Giveaway Buku Harmoni semesta nih.

Syaratnya gampang, tulis, apa keresahanmu saat ini dan upaya yang kamu lakukan :), tag akunku @lutfiahhayati / tulis via email dan kirim ke act.fifi@gmail.com.

ditunggu maks. senin tanggal 13 Mei 2019 yah InsyaAllah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *