event + workshop +just my word

Day 6 : Baldatun Toyyibatun

Hari ini, perjalanan ke Semarang bareng Mas Uta sama Ziyad. Kalo anak, gimana orangtuanya ya. Kitanya excited, Anaknya juga gak kalah energic. Karena Bundanya seneng banget kereta. (Belakang rumah rel kereta, jadi banyak memori indah di sekitaran kereta gt, wkwk), pun dengan Ziyad. MasyaAllah sepanjang jalan, super bahagia dan makan pun lahap Alhamdulillah. Super happyyyyyy.

Seperti biasa, kalo lewatin Jawa Barat, udah pasti disuguhkan dengan Ke-Maha-Besarannya Allah lewat panorama alam yang, *hela nafas dulu* luar bisa indaaaaaaaa banget.

Beberapa kali aku selalu maksa sambil colek2 biar Mas Uta Nengok.

“Mas, mas, liat deh!. bagus banget masyaAllah.”

Tapi sisi seberang kaca yang lain, ada panorama Gunung yang botak akibat di keruk. Capitalism dan manusia-manusia tak berhati, kadang bikin alam menjerit.

Jadi inget tulisannya Buya Hamka, kalau orang beriman, misal lagi bahagia mengamati Alam, selalu yang diinget tentu yang Nyiptain alam. Jadi selfreminder kalo semua pujian cuma buat Allah satu ya. :”)

Dan u/ Perusak ini, sebenernya sadar gak sadar, kita pun sering jadi bagian dan kontribusi. Samph misalnya. Astaghfirullah. 🙁

Semoga terus belajar jadi manusia lebih baik lagi ya amiiin.

Nah! Kembali ke topik Semarang. Ceritanya naik Gocar kan sama panitia.

Aku amazing banget sama supir Gocar yang tadi nganterin kami. Beliau adalah relawan quick count dan relawan pas kegiatan pemilu. Sepanjang perjalanan, beliau cerita tentang masifnya kecurangan yang nampak disengaja.

“Masalahnya Mbak, sebenernya siapapun calon presiden yang kita pilih, jangan sampe ngeboarin kecurangan itu terjadi.”

“Indonesia itu diperjuangkan dengan darah orang-orang yang baik dan mulia. Hanya untuk menjadi Negara yang baik. Anehnya, sekarang ini, orang banyak yang gak takut sama Allah.”

Ya kalo Palestina sama Israel, atau lawannya kita Amerika atau Rusia mah, masih oke lah ya mbak. (Ya meskipun dalam hati serem juga wkwk)”

“Tp Mbak, ini tuh tuh kayak menentang Allah langsung gitu. Mending kalo yang kena getahnya cuma pengkhianatnya aja, kalo enggak?”

Jawabnya panik.”

Aku sama Mas Uta berusaha jadi pendengar yang baik.

Semoga Indonesia jadi negeri yang aman, makmur, menjunjung tinggi keadilan dan kejujuran.

Karena eberapa kali beliau jadi relawan, ini proses demokrasi yang terparah.

(Dalam hati tertegun).

Mataku kosong sambil ngelamun ke beberapa sudut pembangunan di Semarang. Jalanan, tol, aprtemen, dkk.

Tapi dari semasifnya pembangunan ini, emang lucu aja sih gak ada budget atau pengelolaan aset bekas dulu gitu.

pemilihan umum dari kardus, kotak amal dari sistem kecil bernama masjid aja, jauh lebih aman kayaknya.

(Ya Allah, mari kita doakan orang baik terus banyak, bertambah, berdaya, dan terus menyuarakan kebenaran dan kebaikan. Amiiin ya rabb).

Oke kembali ke topik “Baldatun Toyyibatun”.

Kalo big picture-nya adalah menjadi negeri yang aman dan baik, tentu mulailah dari unit kecil bernama keluarga. Iyah, tugas yang bisa kita ambil saat ini. Setelah keluarga, perkokoh kerabat dekat, sahabat, komunitas, dan terus meluas keberdampakannya.

Berat? Memang. Tapi janji-Nya kan kita tidak dikatakan beriman sebelum diuji. Semoga ini bagian dari ujiannya.

Sambil kita diperlihatkan dalam perjalanannya nanti, mana hitam dan putih, dan hikmahnya adalah,

Sudahkah hidup dan tinggal di negeri yang aman damai sudah menjadi cita-cita yang terpatri dalam diri?

Atau

Sudahkah kita menjadi cerminan sari masyarakat yang damai tersebut?

ada dimanakah posisi kita saat ini?

Sudahkah memperjuangkan nilai yang menurut kita baik?

Semoga ramadhan bisa jadi awal untuk kita memiliki kebiasaan baik, sehingga kita bisa berkontribusi menjadi bagian yang ikut andil meretas permasalahan yang terjadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *